Senin, 30 Agustus 2010

Cara Mendapatkan Lailatul Qadr

Lailatul Qodr adalah salah satu malam pada Bulan Ramadhan yang memiliki keutamaan yang sangat besar. Lalu bagaimana cara mendapatkan keutamaan tersebut?

Pertama: Imani adanya dan keutamaannya sesuai berita yang shohih yang sampai kepada kita. Dengan mengimaninya saja akan mendapatkan pahala, disamping itu juga dapat memotivasi kita untuk lebih bersemangat.

Lailatul Qadar merupakan malam yang sangat indah, penuh ketenangan, kesejahteraan, keselamatan, kedamaian dan keberkahan.

Menurut para ulama, Lailatul Qadar bisa berarti Malam Kemuliaan. Bisa juga dinamakan demikian karena pada malam tersebut turun kitab yang mulia, turun rahmat dan turun malaikat yang mulia.

ِإِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١) “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.

Lailatul Qadar juga bisa berarti malam yang penuh sesak karena ketika itu banyak malaikat turun ke dunia. Pada malam inilah, banyak para malaikat yang turun ke bumi, termasuk malaikat yang paling utama yaitu Jibril -’alaihissalaam-.

تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤ Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan.

“Lailatul Qadar itu pada malam 27 atau 29, sungguh Malaikat yg turun pd saat itu ke bumi lebih banyak dari jumlah batu kerikil.” (HR Thayalisi dlm Musnad-nya no. 2545; juga Ahmad II/519; dan Ibnu Khuzaimah dlm shahih-nya II/223)

Bisa juga berarti malam penetapan takdir / qodar.

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِي(٤)أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَ

Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami.

(QS. Ad Dukhaan)

Pada malam ini, segala urusan yang penuh hikmah dirinci, maksudnya segala kejadian selama setahun ke depan ditentukan dengan izin Allah yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana. Penentuan takdir pada malam tersebut adalah penentuan takdir tahunan.

Malam itu penuh keselamatan, kedamaian dan keberkahan.

سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ Malam itu (penuh) keselamatan hingga terbit fajar.

(QS. Al Qadr)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi

(QS. Ad Dukhaan)

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢)لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣ Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. Al Qadr)

Menakjubkan, malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan yaitu sekitar 83 tahun.

(Untuk Makna Nama Lailatul Qodr, Periksa Zaadul Maysir, 6/177, Ibnul Jauziy, Mawqi’ At Tafaasir, Asy Syamilah).

Kedua: Beribadah sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi.

Sholat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ له مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Artinya : Barang siapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” [Hadits Riwayat Bukhari 4/217 dan Muslim 759]

Do’a

Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut.

Tirmidzi, Ibnu Majah dan selainnya meriwayatkan dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radliallahu ‘anha, beliau berkata,

قلت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها ؟ قال قولي اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني

Aku berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apabila aku mengetahui waktu malam Al Qadr, apakah yang mesti aku ucapkan pada saat itu?” Beliau menjawab, “Katakanlah,

اَ للّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنيِّ

Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa, fa’fu’anni

(Yaa Allah sesungguhnya engkau Maha pemberi ampunan, suka memberi pengampunan, maka ampunilah diriku ini).”

(HR. Tirmidzi nomor 3513, Ibnu Majah nomor 3850 dan dishahihkan oleh Al Albani rahimahullahShahih Ibnu Majah nomor 3105) dalam

Seorang Ulama berkata: Barang siapa yang bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah di malam tersebut seperti shalat /qiyamullail, membaca qur`an, berdoa, berdzikir dan mengerjakan amalan-amalan baik lainnya akan mendapatkannya dan memperoleh keuntungan yang telah Allah janjikan bagi orang-orang yang menghidupkan malam tersebut jika dia mengerjakannya dengan mengimani dan mengharapkan pahalanya (-red.- ikhlash karena Allah / mengharap pahala/ridho Allah bukan karena selain Allah).

Sumber : http://danangwirawan.wordpress.

Senin, 23 Agustus 2010

Evaluasi TIK

Assalamu'alaikum Wr. Wb.


Pekernalkan nama saya adalah Aji Tejo Baskoro Saat ini saya sekolah di MAN Yogyakarta 1 kelas XI IPS 2
Saya sangat senang sekolah disini karena saya bisa mendapatkan banyak teman dan guru-gurunya pun sangat menyenangkan.
Mata pelajaran yang saya sukai adalah MIPATIK karena pelajaran tersebut sangat menantang


Selama kurang lebih 4 minggu ini saya belajar mata pelajaran TIK yang dibimbing oleh kakak mahasiswa PPL dari Universitas Negeri Yogyakarta.
Materi yang diajarkan yaitu tentang dasar-dasar membuat desain web.


Teori yang disampaikan yaitu tentang:

  1. Struktur dasar HTML
  2. Heading,
  3. Paragraf,
  4. Blockquotes,
  5. Preformated text,
  6. Various list element, dan
  7. Horizontal rules (line)
  8. Membuat Link
  9. Insert Image

Walaupun hanya sedikit teori yang disampaikan, itu dapat membantu untuk meng-edit blog saya.


Saya akan mempelajari lebih dalam lagi walau sudah tidak dibimbing oleh kakak mahasiswa PPL, dengan bantuan materi yang tersaedia di internet.


Setiap keberhasilan yang saya ketahui
telah diperoleh oleh orang lain
adalah karena orang yang bersangkutan
mampu menganalisa kekalahan
dan benar-benar belajar darinya
untuk menghadapi tantangan berikutnya.



Aji Tejo Baskoro


Terima kasih.


Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.

Sabtu, 05 Juni 2010

Abdullah bin Abbas: Muda Usianya, Luas Ilmunya

"Ya Ghulam, maukah kau mendengar beberapa kalimat yang sangat berguna?" tanya Rasulullah suatu ketika pada seorang pemuda cilik. "Jagalah (ajaran-ajaran) Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya selalu menjagamu. Jagalah (larangan-larangan) Allah maka engkau akan mendapati-Nya selalu dekat di hadapanmu."

Pemuda cilik itu termangu di depan Rasulullah. Ia memusatkan konsentrasi pada setiap patah kata yang keluar dari bibir manusia paling mulia itu. "Kenalilah Allah dalam sukamu, maka Allah akan mengenalimu dalam duka. Bila engkau meminta, mintalah pada-Nya. Jika engkau butuh pertolongan, memohonlah pada-Nya. Semua hal telah selesai ditulis."

Pemuda cilik yang beruntung itu adalah Abdullah bin Abbas. Ibnu Abbas, begitu ia biasa dipanggil. Dalam sehari itu ia menerima banyak ilmu. Bak pepatah sekali dayung tiga empat pula terlampaui, wejangan Rasulullah saat itu telah memenuhi rasa ingin tahunya. Pelajaran aqidah, ilmu, dan amal sekaligus ia terima dalam sekali pertemuan.

Keakrabannya dengan Rasulullah sejak kecil membuat Ibnu Abbas tumbuh menjadi seorang lelaki berkepribadian luar biasa. Hidup bersama dengan Rasulullah benar-benar telah membentuk karakter dan sifatnya. Sebuah kisah menarik melukiskan bagaimana Ibnu Abbas ingin selalu dekat dengan dan belajar dari Rasulullah.

Abdullah bin Abbas lahir tiga tahun sebelum Rasulullah hij-rah. Saat Rasulullah wafat, ia masih sangat belia, 13 tahun umurnya. Semasa hidupnya Rasulullah benar-benar akrab dengan mereka yang hampir seusia dengan Abdullah bin Abbas. Ada Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan sahabat-sahabat kecil lainnya.

Kerap kali Rasulullah meluangkan waktu dan bercanda bersama mereka. Tapi tak jarang pula Rasulullah menasehati mereka. Saat Rasulullah wafat, Ibnu Abbas benar-benar merasa kehilangan. Sosok yang sejak mula menjadi panutannya, kini telah tiada. Tapi keadaan seperti itu tak berlama-lama mengharu-biru perasaannya. Ibnu Abbas segera bangkit dari kesedihannya, iman tak boleh dibiarkan terus menjadi layu. Meski Rasulullah telah berpulang, semangat jihad tak boleh berkurang. Maka Ibnu Abbas pun mulai melakukan perburuan ilmu.

Didatanginya sahabat-sahabat senior, ia bertanya tentang apa saja yang mesti ditimbanya. Tak hanya itu, ia juga mengajak sahabat-sahabat lain yang seusianya untuk belajar pula. Tapi sayang, tak banyak yang mengikuti jejak Ibnu Abbas. Sahabat-sahabat Ibnu Abbas merasa tak yakin, apakah sehabat-shabat senior mau memperhatikan mereka yang masih anak-anak ini. Meski demikian, hal ini tak membuat Ibnu Abbas patah semangat. Apa saja yang menurutnya belum dipahami, ia tanyakan pada sahabat-sahabat yang lebih tahu.

Ia ketuk satu pintu dan berpindah ke satu pintu rumah sahabat-sahabat Rasulullah. Tak jarang ia harus tidur di depan pintu para sahabat, karena mereka sedang istirahat di dalam rumahnya. Tapi betapa terkejutnya mereka tatkala menemui Ibnu Abbas sedang tidur di depan pintu rumahnya.

"Wahai keponakan Rasulullah, kenapa tak kami saja yang menemui Anda," kata para sahabat yang menemukan Ibnu Abbas tertidur di depan pintu rumahnya beralaskan selembar baju yang ia bawa.

"Tidak, akulah yang mesti mendatangi Anda," kata Ibnu Abbas tegas. Demikiankan kehidupan Ibnu Abbas, sampai kelak ia benar-benar menjadi seorang pemuda dengan ilmu dan pengetahuan yang tinggi. Saking tingginya dan tak berimbang
dengan usianya, ada orang yang bertanya tentangnya.

"Bagaimana Anda mendapatkan ilmu ini, wahai Ibnu Abbas?"

"Dengan lidah dan gemar bertanya, dengan akal yang suka berpikir," demikian jawabnya.

Karena ketinggian ilmunya itulah ia kerap menjadi kawan dan lawan berdiskusi para sahabat senior lainnya. Umar bin Khattab misalnya, selalu memanggil Ibnu Abbas untuk duduk bersama dalam sebuah musyawarah. Pendapat-pendapatnya selalu didengar karena keilmuannya. Sampai-sampai Amirul Mukminin kedua itu memberikan julukan kepada Ibnu Abbas sebagai "pemuda tua".

Pada masa Khalifah Utsman, Ibnu Abbas mendapat tugas untuk pergi berjihad ke Afrika Utara. Bersama pasukan dalam pimpinan Abdullah bin Abi Sarh, ia berangkat sebagai mujahid dan juru dakwah. Di masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, ia pun menawarkan diri sebagai utusan yang akan berdialog dengan kaum khawarij dan berdakwah pada mereka. Sampai-sampai lebih dari 15.000 orang memenuhi seruan Allah untuk kembali pada jalan yang benar.

Di usianya yang ke 71 tahun, Allah memanggilnya. Saat itu umat Islam benar-benar kehilangan seorang dengan kemampuan dan pengetahuan yang luar biasa. "Hari ini telah wafat ulama umat," kata Abu Hurairah menggambarkan rasa kehilangannya. Semoga Allah memberikan satu lagi penggantinya. (sa/berbagaisumber)

Ujian Cinta Seorang Perempuan


“Hmmm … do'ain aku ya … mudah-mudahan aku tetap istiqomah, mungkin ini ujian buat kami,” begitu tutur salah seorang sahabatku menutup curhat di malam itu.

Huff...

Antara percaya dan tidak, ketika pertemuan yang beberapa kali tertunda itu membicarakan sesuatu yang tak pernah aku bayangkan (dan tak kuharapkan) terjadi pada teman-temanku apalagi diriku. Kalaupun pernah kudengar, biarlah itu orang lain yang tak kukenal dan cukup do'a saja semoga (lagi-lagi... ) tak terjadi padaku atau keluargaku atau teman-temanku..

Tapi toh malam itu, menggugurkan seserpih harapanku. Laila (bukan nama sebenarnya), muslimah lembut dan anggun, menceritakan bahwa beberapa bulan ini ia tengah menjalin hubungan dekat (lebih sopan dari pacaran kan?) dengan seorang lawan jenis, yang jelas bukan mahramnya. Bahkan orang yang belum lama dikenalnya, suami orang pula. Biasa saja mungkin, kalau Laila seorang yang tidak paham haramnya hukum pacaran dan masih sendiri. Tapi Laila ibu muda, dua anak ini tetap mengadu padaku, seseorang yang menikah baru seumur jagung.

Lagi-lagi membuatku terhenyak, pagi-pagi sekali aku mendapat sms dari seorang sahabat lama, yang jauh lebih senior dariku. Seorang muslimah yang ceria dan sangat dermawan. Meski usia kami terpaut cukup jauh, sebut saja Mbak Jamilah ini sangat percaya padaku. Awalnya sapaan itu datang dariku, berupa tausiyah kecil pelepas kangen. Jawabannya cukup mengejutkan, intinya minta tolong untuk terus ditausiyahi karena sedang mengalami ujian (lagi-lagi ujian) cinta. Tadinya tak begitu mengkhawatirkan, karena kupikir si Mbak sedang ”cinta sekali” pada suaminya. tapi ternyata ”ujian” ini didapatkan bersamaan dengan seorang yang sama sekali bukan siapa-siapanya dan masih sendiri.

"Hey ... hebat mbak sama brondong... " ledekan jahilku, mengingat si mbak sudah punya lebih dari tiga momongan.

Ah.. rasanya sulit menempatkan rasa, kecewakah, sedihkah, yang tepat hanya bingung. Aku terpekur beberapa kali. Sehela kemudian beristighfar. Rasanya tak ada yang tak mungkin di dunia ini bukan? Tapi kedua sahabat salehahku ini telah ”mencambuk” rasa terdalamku. Bukan tak mungkin kalau ujian itu bisa terjadi pada siapapun, termasuk diriku, hanya saja kita mampu ”menaklukannya” menjadi tangga menuju keimanan yang lebih tinggi atau sebaliknya. Seperti kata Bang Napi "kejahatan bukan hanya terjadi karena adanya niat, tapi juga karena adanya kesempatan."

Syukurlah keduanya segera tersadar sebelum terlambat ke dalam sesuatu yang dibenci Allah. Keduanya sama - sama memahami yang mereka lakukan adalah khilaf semata.

Siapapun tak menyukai pengkhianatan, apalagi seseorang yang bahkan menikah saja memilih "jalur" sebersih mungkin, tanpa pacaran dan semata diniatkan karena ibadah dengan cara yang indah. Tapi tokh ujian itu menghampiri juga. Faktornya bermacam - macam, tergantung di sisi mana lemahnya. Kalau kita lemah dari sisi ekonomi, maka ujian akan hadir di sana. Kalau kita lemah dari sisi ibadah, ujianpun akan hadir di sana.

Aku pernah membaca kisah seorang muslimah, seorang atlet karate yang sangat sehat, tidak suka bermaksiat, rajin ibadah, cerdas pula. Allah uji dengan sakit kanker, sampai diangkat salah satu indung telurnya. Tapi subhanallah ... beliau berhasil melewatinya, dengan tertatih-tatih, beliau bersabar untuk terus berusaha sehat, dan Allah membalasnya dengan kenikmatan berupa suami dan anak-anak yang sehat juga saleh (awalnya beiau divonis tidak bisa hamil dan berumur pendek secara medis). Intinya semakin meningkat kadar keimanan seseorang, maka ujian pun akan menyesuaikan tingkatannya.

”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ’Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al-Baqarah ayat 214)

”Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Al-Kahfi ayat 7)

So, terlepas apapun motifnya. Tetaplah apapun namanya kesulitan, kesenangan, ujian yang kalau tak berhati - hati, kita akan terjerebab ke dalamnya. Kecintaan pada sesuatu yang halal jika berlebihan pun, bisa jadi sesuatu yang buruk membuat kita lalai beribadah misalnya.

”Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak [186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran ayat 14)

Setelah menyadari itu semua ujian keimanan, mencari obatnya, itu yang dikagumi dari sosok orang beriman, bukankah kunci taubat hanya 3 : 1. menyadari kesalahan 2. meninggalkan kesalahan 3. menggantinya dengan amal saleh

Sama halnya dengan ujian cinta. Sebelum menikah maupun setelah menikah ujian terhadap lawan jenis ternyata ada, hanya kadarnya saja yang berbeda tergantung pribadi masing-masing dan lingkungan yang mendukung untuk menimbulkan kelemahan atas itu (sehingga terjadilah fitnah/ujian).

Maka, kuatkanlah 'tameng' kita, dengan terapi tombo ati ; pertama, baca qur'an dan maknanya; yang kedua, sholat malam dirikanlah; yang ketiga, berkumpulah dengan orang saleh (lingkungan positiif, ikut pengajian rutin misalnya); yang keempat, perbanyaklah berpuasa; yang kelima, perpanjang zikir (doa dan curhat sebanyak -banyaknya pada Allah).

Selanjutnya terapi khusus sesuai dengan kebutuhan masing-masing pribadi, komunikasi dengan pasangan, isi waktu dengan hal positif atu ingat-ingat dan sering-sering melihat wajah orang-orang yang kita cintai. Tegakah kita?

Semoga ketika ujian hadir, kita mintakan kekuatan lebih pada Allah Swt untuk mampu melaluinya dengan nilai cemerlang.

Penulis: Siti Nurseha, Asisten Dosen Universitas Negeri Jakarta. http://eramuslim.com/akhwat/muslimah/ujian-cinta-bagi-perempuan.htm



 

Tejo Website Copyright © 2010 all rights reserved. thanks to velshadow team